Relawan itu Rela

Sebelas bulan sudah saya berkecimpung di dunia kerelawanan dalam komunitas Akademi Berbagi Pekalongan. Niat yang awalnya untuk mencari kesibukan dan mencari banyak teman di Pekalongan, berubah menjadi lebih dari sekedar itu. Saya semakin mencintai komunitas ini, dan tidak hanya teman, namun saya mendapatkan keluarga di sini. Perjalanan kami tidak semulus jalan tol yang baru saja jadi, berbagai dinamika telah kami dilewati, mulai dari kegembiraan yang tercipta ketika berkumpul, rindu yang membuncah di kala lama tak berjumpa (halaahhh lebay :p), hingga beberapa konflik intern yang kami hadapi namun semakin menguatkan kami.

Yap, setelah Akademi Berbagi Pekalongan melewati Ulang tahunnya yang kedua bertema ‘Kreativitas Menembus Batas’ pada bulan Desember lalu, saya dipercaya oleh teman2 untuk menahkodai komunitas ini. Awalnya sempat ragu, karena fokus saya di beberapa hal di tahun 2014 menjadikan saya takut kalau nantinya tidak bisa total di komunitas ini. Hal lain yang membuat ragu yaitu, jujur saya merasa baground saya dan teman-teman sangatlah berbeda, terlebih dengan Kepala Sekolah sebelumnya. Saya mengalami ketakutan bila gaya kepemimpinan saya kurang dapat diterima oleh rekan-rekan. Saya sempat berpikir lama kala itu, namun saya akhirnya menyanggupi dengan syarat yang saya ajukan (belum jadi kepsek aja udah belagu pake syarat segala :p). Yang pertama harus ada keterbukaan diantara kita, komunikasi harus terbangun dengan baik. Jika teman-teman relawan masih sibuk dengan kegiatan lain dan berhalangan hadir, tidak menjadi masalah asal ada komunikasi sebelumnya sehingga teman-teman lain dapat mengerti. Yang kedua, jika ada uneg-uneg baik kepada akber maupun kepada salah satu relawan harus disampaiakn secara terbuka, tidak boleh ‘nggrundel’ di belakang, dan harus saling mengingatkan bila sudah mulai membicarakan kejelekan relawan di belakang. Yang terakhir, akademi berbagi ini merupakan kegiatan sosial, dimana relawannya tidak mendapatkan satu rupiahpun dari komunitas ini, sehingga kegiatan utama relawan harus didahulukan, tidak boleh Akber ini menjadi beban relawan. Relawan tidak boleh merasa tidak enak hati bila tidak bisa hadir kegiatan-kegiatan Akber.

Poin ketiga memang menjadi sorotan saya, pengalaman saya di organisasi sebelumnya, punya ‘rasa tidak enak’ yang diciptakan sendiri itu bisa menggrogoti sebuah organisasi. Rasa tidak enak hati bisa menggrogoti komitmen anggota dalam sebuah organisasi. Yang ditakutkan adalah bila relawan berkutat dengan rasa tidak enak dengan dirinya sendiri, misal tidak enak karena jarang datang rapat atau kegiatan, akhirnya ia tidak akan datang rapat, dan bila terjadi terus menerus akhirnya akan jadi beban diri sendiri dan teman relawan lainnya. Contoh konkretnya jika status relawan tersebut tidak jelas, antara masih bergabung atau tidak karena jarang datang kegiatan, di sisi relawan tersebut sudah merasa tidak enak atas intensitas yg kurang dalam kegiatan, dan di sisi teman-teman relawan yang lain merasa bingung untuk memberikan tanggung jawab kepada relawan tersebut. Bila diberi tanggung jawab takut tidak berjalan dengan maksimal, namun bila tidak diberi tanggung jawab, nantinya relawan tersebut merasa sudah tidak dianggap lagi dalam organisasi tersebut. Dan pada akhirnya itu menjadi lingkaran setan yang tidak ada hentinya bila tidak dikomunikasikan dengan baik. KOMUNIKASI menjadi kunci utama dalam berorganisasi, apapun dan dimanapun organisasi itu berada.

Prinsip yang saya tanamkan juga pada teman-teman relawan adalah ‘RELAWAN ITU RELA’. Sebagai relawan, prinsip dasar kita adalah melakukan kegiatan dengan rela, ikhlas, sukarela. Relawan tidak melulu soal rela dalam hal materiil, karena notabene kegiatan sosial ini tanpa ada imbalan sehingga relawan terkadang harus mengeluarkan dana pribadi untuk kegiatan sosial. Namun, rela disini juga berbicara mengenai kerelaan hati, ikhlas secara pikiran dan hati/ perasaan. Jangan sampai dalam menjalankan kegiatan, relawan merasa terbeban dengan kegiatan yang dilakukan, bekerja pontang-panting demi goal organisasi, terlebih sampai mengganggu kegiatan utama relawan itu sendiri. Memiliki kegiatan yang besar demi mendukung eksistensi komunitas boleh, namun apalah artinya sebuah eksistensi bila tidak didukung dengan kekuatan internal komunitas tersebut. Kekeluargaan dan komunikasi di dalamnya, segala tawa dan canda, kekuatan memberi tanpa meminta, kekuatan saling mendukung antar relawan dan sebagainya.

Relawan itu rela. Semoga terus ada di hati kami agar segala sesuatu yang kami lakukan tidak mengharap timbal balik apapun, tidak mengharap penghargaan, dan tidak mengharap sanjungan dari orang lain. Rela dalam diri pribadi masing-masing, kekuatan memberi tanpa meminta, dan kekuatan untuk berbagi semoga terus ada di dalam hati kami.

Terima kasih terkhusus saya sampaikan kepada relawan Akademi Berbagi Pekalongan periode ini, mbak Farah, mbak April, mbak Desy, mas Trias, mas Sigit, dan Kanza atas pembelajaran luar biasa dua bulan ini. Juga untuk mas Yayan dan mbak Mila atas bantuannya selama ini. Dan terima kasih untuk teman-teman Akadmei Berbagi di seluruh Indonesia atas masukan dan segala supottnyaa…

Salam Berbagi Bikin Happy

One response

  1. nice writing sinta, memang kadang kerelaan itu terkaburkan dengan motif tersembunyi untuk unjuk gigi atau mencari benefit dari kegiatan komunitas, itu yang harus diwaspadai😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Akademi Berbagi Pekalongan

BERBAGI BIKIN HAPPY

Jari Manis Indonesia

Aktivasi kekuatan Pikiran

Agustino Pratama

"Berbagi Ceritai"

Srijoko's Blog

belajar, berjuang, dan berkarya

stepenautis

All about the Life of Stepen

Sunrice Psikologi Unika

Be The Best in Everything!

katharinaedwina

"Liking everything of Challenging"

Recycle Bin

Ada cerita di setiap tarikan napas

Retta berkata...

bercerita dan mengomentari dunia

Caraka

Menyampaikan apa yang ingin disampaikan

%d bloggers like this: