Temper Tantrum

Pada rentang usia tertentu, kemarahan yang tiba-tiba memang biasa dan wajar saja dialami oleh anak. Mereka bisa marah karena sebab apa pun, bahkan dikarenakan sebab yang tidak masuk akal. Kemarahan yang seperti ini diberi istilah temper tantrum atau tantrum. Masa-masa anak mengalami temper tantrum biasanya pada usia 2 – 5 tahun atau masa-masa prasekolah. Tantrum bisa muncul kapan saja dan dimana saja.  Tak peduli di rumah, dalam perjalanan ataupun ditengah keramaian.

Ada beberapa penyebab terjadinya tantrum, antara lain anak mencari perhatian, lelah, lapar, atau tidak nyaman. Tantrum kadang terjadi karena anak frustrasi pada dunia, misalnya tidak mendapatkan yang diinginkan. Frustrasi pada anak bukan sesuatu yang tidak dapat diterima karena justru ia akan belajar mengenal orang lain, objek, atau dirinya sendiri. Sebelum menginjak usia dua tahun, anak mulai membangun rasa percaya diri yang kuat pada dirinya. Ia ingin belajar mandiri untuk mengekspresikan dirinya dan untuk menguasai lingkungan di sekitarnya  lebih dari yang sebenarnya mampu ia atasi. Anak merasa bisa melakukan sendiri atau menginginkan sesuatu itu. Ketika usia balita anak mulai menyadari bahwa ia tidak dapat melakukannya sendiri dan tidak mendapatkan semua yang diinginkan, terbentuklah tantrum.

Banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif, dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode tantrum pasti berakhir. Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku tantrum adalah dengan tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekspresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah, atau sakit. Namun demikian bukan berarti bahwa tantrum sebaiknya harus dipuji dan disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan tantrum, berarti orang tua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif.

Orangtua yang bertindak keliru dalam menyikapi tantrum, juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut. ada dua jenis tantrum, yaitu tantrum amarah (anger tantrum) dengan ciri menghentakan kaki, menendang, memukul, berteriak dan tantrum kesedihan (distresss tantrum) dengan cirri menangis dan terisak-isak, membantingkan diri dan berlari menjauh.

Contoh perilaku tantrum itu bermacam-macam menurut tingkatan usia. Di bawah usia tiga tahun,  perilaku yang muncul adalah menangis, mengigit, memukul, menendang, menjerit, memekik-mekik, melempar badan ke lantai, memukul-mukulkan tangan, membentur-benturkan kepala, melempar-lempar barang. Pada usia 3 – 4 tahun biasanya perilaku yang muncul adalah menghentak-hentakkan kaki, berteriak-teriak, meninju, membanting pintu, mengkritik, merengek. Dan pada usia 5 tahun ke atas perilaku yang muncul adalah memaki, menyumpah, memukul kakak, adik atau temannya, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja, dan mengancam.

Terdapat beberapa penyebab tantrum, diantaranya adalah :

  1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu. Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan.
  2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri. Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk tantrum.
  3. Tidak terpenuhinya kebutuhan. Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah tantrum.
  4. Pola asuh orangtua. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum.
  5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.
  6. Anak sedang stres (tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman

Mengatasi anak-anak yang sedang mengamuk itu gampang-gampang susah. Tapi, ada beberapa kiat yang bisa kita gunakan untuk mengatasi masalah ini.

  1. Cari tahu penyebabnya. Dengan mengetahui penyebab anak-anak mengamuk, kita akan mudah menentukan langkah yang harus kita ambil dalam menghadapi mereka.
  2. Jangan ikut emosi. Biasanya, orangtua akan ikut-ikutan menjadi emosi manakala anak mereka mengamuk. Orangtua bisa memukul, mencubit, dsb. Apakah itu solusi? Tidak. Anak-anak bukannya akan belajar mengatasi kemarahan mereka, tapi malah semakin menganggap orangtuanya jahat.
  3. Abaikan dan ajari anak mengatasi kemarahannya. Jangan turuti semua hal yang diinginkan pada saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak memperdulikan kemarahannya, sebenarnya adalah cara yang sangat jitu untuk membuatnya tahu, bahwa kemarahannya tidak bisa membeli keinginannya. Katakan padanya, bahwa hanya anak-anak yang menyampaikan keinginan dengan cara yang baiklah yang akan mendapatkan keinginannya itu dari Anda. Bukan dengan amukan, tangisan, bahkan berguling-guling. Sikap tegas dan konsistensi Anda dengan sikap ini akan membuatnya berlatih lebih disiplin.
  4. Sudut diam. Dalam artian, bukan mengurung anak di kamar mandi atau di gudang. Tidak perlu main kunci pintu atau rantai. Cukup sediakan sebuah kursi yang Anda sebut sebagai kursi diam. Saat mengamuk, dudukkan anak disana, dan ia tidak boleh kemana-mana sampai ia bisa menenangkan diri. Boleh juga meminta anak untuk masuk ke kamarnya sendiri dan menenangkan diri. Ia boleh keluar dan kembali menyapa Anda setelah ia tenang.

Normalnya, memasuki usia 5 tahun, saat anak-anak mulai bersekolah dan bergaul dengan teman sebayanya, mereka telah mulai dapat mengatasi gejolak emosi mereka. Sesekali mungkin marah, tapi, mereka lebih bisa menahan diri. Jika dalam waktu bertahun-tahun di masa sekolah mereka belum juga bisa mengatasi permasalahan ini, kemungkinan besar menunjukkan bahwa anak-anak bermasalah dalam emosinya. Bisa jadi, karena kesulitan belajar atau kesulitan bergaul dengan lingkungannya, dan lain sebagainya.

Loving and Sharing Each Others

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Akademi Berbagi Pekalongan

BERBAGI BIKIN HAPPY

Jari Manis Indonesia

Aktivasi kekuatan Pikiran

Agustino Pratama

"Berbagi Ceritai"

Srijoko's Blog

belajar, berjuang, dan berkarya

stepenautis

All about the Life of Stepen

Sunrice Psikologi Unika

Be The Best in Everything!

katharinaedwina

"Liking everything of Challenging"

Recycle Bin

Ada cerita di setiap tarikan napas

Retta berkata...

bercerita dan mengomentari dunia

Caraka

Menyampaikan apa yang ingin disampaikan

%d bloggers like this: