Who is your Role Model?

Ada fenomena unik yang saya jumpai di kampus terhadap adik-adik mahasiswa baru. Setelah mengikuti kegiatan sejenis ospek dan berinteraksi dengan masyarakat yang ada di dalam kampus, secara tidak sadar mahasiswa baru ini akan mencari role model sesuai dengan dirinya. Mencari dan terus mencari, sampai pada akhirnya mahasiswa ini akan menemukan seseorang, baik itu teman, kakak kelas, ataupun dosen yang dapat ia jadikan sebagai role modelnya.

Memiliki role model merupakan suatu hal yang penting dalam hidup kita. Bukan berarti dengan memiliki role model kita tidak dapat menjadi diri sendiri. Role model diperlukan sebagai acuan atau pengarah dalam kita berbuat. Salahkah bila kita memiliki role model? Tidak! Tentu tidak salah. Role model adalah seseorang yang coba kita tiru cetak biru hidupnya. Dengan memiliki role model, kita akan dapat semakin bergairah dalam mencapai tujuan hidup. Kita akan memiliki semangat untuk dapat melakukan sama/ mirip apa yang dilakukan oleh role model kita. Tentunya sesuatu yang bersifat positif. Role model dapat menjadi motivator dalam hidup kita.

Contoh mudahnya adalah teman-teman Katolik dan Kristiani mungkin akan mengatakan bahwa role model-nya adalah Tuhan Yesus, teman-teman muslim memiliki role model Rasulullah Muhamad SAW. Boleh saja kita memiliki role model seperti hal tersebut di atas, namun akan lebih mudah bila kita memiliki role model dekat dengan lingkungan sekitar kita. Kita dapat berinteraksi langsung dengan orang tersebut sehingga dapat dengan mudah mengetahui lebih dalam tentang dirinya, cetak biru kehidupannya kemudian mengadaptasikannya ke dalam perilaku dan kehidupan kita. Namun, kita juga perlu hati-hati dalam memilih role model, jangan sampai kita memiliki role model yang salah, yang dapat membawa kita ke arah negatif.

Ada yang perlu diwaspadai dalam meniru kebiasaan atau perilaku role model kita. Kita harus menyaring segala sesuatunya dan menyesuaikannya dengan kemampuan diri kita. Jangan asal menerapkan apa yang yang menjadi kebiasaan, tutur kata, perilaku role model kita. Apa yang pas dilakukan oleh orang lain, belum tentu pas dilakukan oleh kita. Oleh karena itu, hati-hati dalam mengadaptasi perilaku role model kita. Pahami terlebih dahulu secara holistik role model kita, jangan asal tiru. Salah salah, kita yang akan kehilangan jati diri kita.

Nah, sekarang coba deh merenung sejenak. Bila kita memiliki role model, sudah menjadi lebih baikkah kita dari sebelumnya? Sudah pas kah role model  tersebut dengan diri kita? Sudah disaring dan diadaptasikan dengan diri kita? Jangan sampai kita hanya asal ‘comot’ perilaku role model kita tanpa menyaringnya dan disesuaikan dengan diri kita. Role model seharusnya menjadikan hidup kita semakin berkembang. Lebih asyik lagi bila role model tersebut bisa menjadi mentor kita. So, who is your role model?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Akademi Berbagi Pekalongan

BERBAGI BIKIN HAPPY

Jari Manis Indonesia

Aktivasi kekuatan Pikiran

Agustino Pratama

"Berbagi Ceritai"

Srijoko's Blog

belajar, berjuang, dan berkarya

stepenautis

All about the Life of Stepen

Sunrice Psikologi Unika

Be The Best in Everything!

katharinaedwina

"Liking everything of Challenging"

Recycle Bin

Ada cerita di setiap tarikan napas

Retta berkata...

bercerita dan mengomentari dunia

Caraka

Menyampaikan apa yang ingin disampaikan

%d bloggers like this: