Relawan itu Rela

Sebelas bulan sudah saya berkecimpung di dunia kerelawanan dalam komunitas Akademi Berbagi Pekalongan. Niat yang awalnya untuk mencari kesibukan dan mencari banyak teman di Pekalongan, berubah menjadi lebih dari sekedar itu. Saya semakin mencintai komunitas ini, dan tidak hanya teman, namun saya mendapatkan keluarga di sini. Perjalanan kami tidak semulus jalan tol yang baru saja jadi, berbagai dinamika telah kami dilewati, mulai dari kegembiraan yang tercipta ketika berkumpul, rindu yang membuncah di kala lama tak berjumpa (halaahhh lebay :p), hingga beberapa konflik intern yang kami hadapi namun semakin menguatkan kami.

Yap, setelah Akademi Berbagi Pekalongan melewati Ulang tahunnya yang kedua bertema ‘Kreativitas Menembus Batas’ pada bulan Desember lalu, saya dipercaya oleh teman2 untuk menahkodai komunitas ini. Awalnya sempat ragu, karena fokus saya di beberapa hal di tahun 2014 menjadikan saya takut kalau nantinya tidak bisa total di komunitas ini. Hal lain yang membuat ragu yaitu, jujur saya merasa baground saya dan teman-teman sangatlah berbeda, terlebih dengan Kepala Sekolah sebelumnya. Saya mengalami ketakutan bila gaya kepemimpinan saya kurang dapat diterima oleh rekan-rekan. Saya sempat berpikir lama kala itu, namun saya akhirnya menyanggupi dengan syarat yang saya ajukan (belum jadi kepsek aja udah belagu pake syarat segala :p). Yang pertama harus ada keterbukaan diantara kita, komunikasi harus terbangun dengan baik. Jika teman-teman relawan masih sibuk dengan kegiatan lain dan berhalangan hadir, tidak menjadi masalah asal ada komunikasi sebelumnya sehingga teman-teman lain dapat mengerti. Yang kedua, jika ada uneg-uneg baik kepada akber maupun kepada salah satu relawan harus disampaiakn secara terbuka, tidak boleh ‘nggrundel’ di belakang, dan harus saling mengingatkan bila sudah mulai membicarakan kejelekan relawan di belakang. Yang terakhir, akademi berbagi ini merupakan kegiatan sosial, dimana relawannya tidak mendapatkan satu rupiahpun dari komunitas ini, sehingga kegiatan utama relawan harus didahulukan, tidak boleh Akber ini menjadi beban relawan. Relawan tidak boleh merasa tidak enak hati bila tidak bisa hadir kegiatan-kegiatan Akber.

Poin ketiga memang menjadi sorotan saya, pengalaman saya di organisasi sebelumnya, punya ‘rasa tidak enak’ yang diciptakan sendiri itu bisa menggrogoti sebuah organisasi. Rasa tidak enak hati bisa menggrogoti komitmen anggota dalam sebuah organisasi. Yang ditakutkan adalah bila relawan berkutat dengan rasa tidak enak dengan dirinya sendiri, misal tidak enak karena jarang datang rapat atau kegiatan, akhirnya ia tidak akan datang rapat, dan bila terjadi terus menerus akhirnya akan jadi beban diri sendiri dan teman relawan lainnya. Contoh konkretnya jika status relawan tersebut tidak jelas, antara masih bergabung atau tidak karena jarang datang kegiatan, di sisi relawan tersebut sudah merasa tidak enak atas intensitas yg kurang dalam kegiatan, dan di sisi teman-teman relawan yang lain merasa bingung untuk memberikan tanggung jawab kepada relawan tersebut. Bila diberi tanggung jawab takut tidak berjalan dengan maksimal, namun bila tidak diberi tanggung jawab, nantinya relawan tersebut merasa sudah tidak dianggap lagi dalam organisasi tersebut. Dan pada akhirnya itu menjadi lingkaran setan yang tidak ada hentinya bila tidak dikomunikasikan dengan baik. KOMUNIKASI menjadi kunci utama dalam berorganisasi, apapun dan dimanapun organisasi itu berada.

Prinsip yang saya tanamkan juga pada teman-teman relawan adalah ‘RELAWAN ITU RELA’. Sebagai relawan, prinsip dasar kita adalah melakukan kegiatan dengan rela, ikhlas, sukarela. Relawan tidak melulu soal rela dalam hal materiil, karena notabene kegiatan sosial ini tanpa ada imbalan sehingga relawan terkadang harus mengeluarkan dana pribadi untuk kegiatan sosial. Namun, rela disini juga berbicara mengenai kerelaan hati, ikhlas secara pikiran dan hati/ perasaan. Jangan sampai dalam menjalankan kegiatan, relawan merasa terbeban dengan kegiatan yang dilakukan, bekerja pontang-panting demi goal organisasi, terlebih sampai mengganggu kegiatan utama relawan itu sendiri. Memiliki kegiatan yang besar demi mendukung eksistensi komunitas boleh, namun apalah artinya sebuah eksistensi bila tidak didukung dengan kekuatan internal komunitas tersebut. Kekeluargaan dan komunikasi di dalamnya, segala tawa dan canda, kekuatan memberi tanpa meminta, kekuatan saling mendukung antar relawan dan sebagainya.

Relawan itu rela. Semoga terus ada di hati kami agar segala sesuatu yang kami lakukan tidak mengharap timbal balik apapun, tidak mengharap penghargaan, dan tidak mengharap sanjungan dari orang lain. Rela dalam diri pribadi masing-masing, kekuatan memberi tanpa meminta, dan kekuatan untuk berbagi semoga terus ada di dalam hati kami.

Terima kasih terkhusus saya sampaikan kepada relawan Akademi Berbagi Pekalongan periode ini, mbak Farah, mbak April, mbak Desy, mas Trias, mas Sigit, dan Kanza atas pembelajaran luar biasa dua bulan ini. Juga untuk mas Yayan dan mbak Mila atas bantuannya selama ini. Dan terima kasih untuk teman-teman Akadmei Berbagi di seluruh Indonesia atas masukan dan segala supottnyaa…

Salam Berbagi Bikin Happy

Advertisements

Relawan itu Rela

Sebelas bulan sudah saya berkecimpung di dunia kerelawanan dalam komunitas Akademi Berbagi Pekalongan. Niat yang awalnya untuk mencari kesibukan dan mencari banyak teman di Pekalongan, berubah menjadi lebih dari sekedar itu. Saya semakin mencintai komunitas ini, dan tidak hanya teman, namun saya mendapatkan keluarga di sini. Perjalanan kami tidak semulus jalan tol yang baru saja jadi, berbagai dinamika telah kami dilewati, mulai dari kegembiraan yang tercipta ketika berkumpul, rindu yang membuncah di kala lama tak berjumpa (halaahhh lebay :p), hingga beberapa konflik intern yang kami hadapi namun semakin menguatkan kami.

Yap, setelah Akademi Berbagi Pekalongan melewati Ulang tahunnya yang kedua bertema ‘Kreativitas Menembus Batas’ pada bulan Desember lalu, saya dipercaya oleh teman2 untuk menahkodai komunitas ini. Awalnya sempat ragu, karena fokus saya di beberapa hal di tahun 2014 menjadikan saya takut kalau nantinya tidak bisa total di komunitas ini. Hal lain yang membuat ragu yaitu, jujur saya merasa baground saya dan teman-teman sangatlah berbeda, terlebih dengan Kepala Sekolah sebelumnya. Saya mengalami ketakutan bila gaya kepemimpinan saya kurang dapat diterima oleh rekan-rekan. Saya sempat berpikir lama kala itu, namun saya akhirnya menyanggupi dengan syarat yang saya ajukan (belum jadi kepsek aja udah belagu pake syarat segala :p). Yang pertama harus ada keterbukaan diantara kita, komunikasi harus terbangun dengan baik. Jika teman-teman relawan masih sibuk dengan kegiatan lain dan berhalangan hadir, tidak menjadi masalah asal ada komunikasi sebelumnya sehingga teman-teman lain dapat mengerti. Yang kedua, jika ada uneg-uneg baik kepada akber maupun kepada salah satu relawan harus disampaiakn secara terbuka, tidak boleh ‘nggrundel’ di belakang, dan harus saling mengingatkan bila sudah mulai membicarakan kejelekan relawan di belakang. Yang terakhir, akademi berbagi ini merupakan kegiatan sosial, dimana relawannya tidak mendapatkan satu rupiahpun dari komunitas ini, sehingga kegiatan utama relawan harus didahulukan, tidak boleh Akber ini menjadi beban relawan. Relawan tidak boleh merasa tidak enak hati bila tidak bisa hadir kegiatan-kegiatan Akber.

Poin ketiga memang menjadi sorotan saya, pengalaman saya di organisasi sebelumnya, punya ‘rasa tidak enak’ yang diciptakan sendiri itu bisa menggrogoti sebuah organisasi. Rasa tidak enak hati bisa menggrogoti komitmen anggota dalam sebuah organisasi. Yang ditakutkan adalah bila relawan berkutat dengan rasa tidak enak dengan dirinya sendiri, misal tidak enak karena jarang datang rapat atau kegiatan, akhirnya ia tidak akan datang rapat, dan bila terjadi terus menerus akhirnya akan jadi beban diri sendiri dan teman relawan lainnya. Contoh konkretnya jika status relawan tersebut tidak jelas, antara masih bergabung atau tidak karena jarang datang kegiatan, di sisi relawan tersebut sudah merasa tidak enak atas intensitas yg kurang dalam kegiatan, dan di sisi teman-teman relawan yang lain merasa bingung untuk memberikan tanggung jawab kepada relawan tersebut. Bila diberi tanggung jawab takut tidak berjalan dengan maksimal, namun bila tidak diberi tanggung jawab, nantinya relawan tersebut merasa sudah tidak dianggap lagi dalam organisasi tersebut. Dan pada akhirnya itu menjadi lingkaran setan yang tidak ada hentinya bila tidak dikomunikasikan dengan baik. KOMUNIKASI menjadi kunci utama dalam berorganisasi, apapun dan dimanapun organisasi itu berada.

Prinsip yang saya tanamkan juga pada teman-teman relawan adalah ‘RELAWAN ITU RELA’. Sebagai relawan, prinsip dasar kita adalah melakukan kegiatan dengan rela, ikhlas, sukarela. Relawan tidak melulu soal rela dalam hal materiil, karena notabene kegiatan sosial ini tanpa ada imbalan sehingga relawan terkadang harus mengeluarkan dana pribadi untuk kegiatan sosial. Namun, rela disini juga berbicara mengenai kerelaan hati, ikhlas secara pikiran dan hati/ perasaan. Jangan sampai dalam menjalankan kegiatan, relawan merasa terbeban dengan kegiatan yang dilakukan, bekerja pontang-panting demi goal organisasi, terlebih sampai mengganggu kegiatan utama relawan itu sendiri. Memiliki kegiatan yang besar demi mendukung eksistensi komunitas boleh, namun apalah artinya sebuah eksistensi bila tidak didukung dengan kekuatan internal komunitas tersebut. Kekeluargaan dan komunikasi di dalamnya, segala tawa dan canda, kekuatan memberi tanpa meminta, kekuatan saling mendukung antar relawan dan sebagainya.

Relawan itu rela. Semoga terus ada di hati kami agar segala sesuatu yang kami lakukan tidak mengharap timbal balik apapun, tidak mengharap penghargaan, dan tidak mengharap sanjungan dari orang lain. Rela dalam diri pribadi masing-masing, kekuatan memberi tanpa meminta, dan kekuatan untuk berbagi semoga terus ada di dalam hati kami.

Terima kasih terkhusus saya sampaikan kepada relawan Akademi Berbagi Pekalongan periode ini, mbak Farah, mbak April, mbak Desy, mas Trias, mas Sigit, dan Kanza atas pembelajaran luar biasa dua bulan ini. Juga untuk mas Yayan dan mbak Mila atas bantuannya selama ini. Dan terima kasih untuk teman-teman Akadmei Berbagi di seluruh Indonesia atas masukan dan segala supottnyaa…

Salam Berbagi Bikin Happy

Pekalongan Heritage

Hari Minggu kemarin, 6 Oktober 2013 saya bersama komunitas Relawan Indonesia Berinovasi melakukan aksi jalan-jalan sejarah budaya kota Pekalongan. Yap, Relawan Indonesia Berinovasi ini terdiri dari kumpulan komunitas yang ada di Pekalongan, diantaranya yaitu komunitas Akademi Berbagi, Komunitas Sukses Mulia Pekalongan, Pagi Berbagi, Urban Sketchers Pekalongan, Komunitas Pekalongan Heritage, Pekalongan Peduli, dan Forum Kota Hijau Pekalongan. Acara ini diadakan dalam rangka meramaikan event Pekan Batik Internasional yang diadakan di kawasan Jetayu Pekalongan serta dalam rangka mengawali serangkaian kegiatan dalam menyambut ulang tahun Akademi Berbagi Pekalongan yang pertama. Ngapain dan kemana aja kita kemarin? Yuk disimak ajah…

Hari Minggu kemarin memang acara perdana bagi Relawan Indonesia Berinovasi dalam mengadakan aksi sejarah budaya. Acara yang diikuti oleh kumpulan anggota komunitas dan berbagai kalangan masyarakat ini dimulai pukul 08.00 pagi. Awalnya kami berkumpul di kantor pos Pekalongan, namun kemudian kami mengawali kunjungan kami ke Museum Batik Pekalongan. Bangunan ini berdiri sejak tahun 1900. Pada awalnya bangunan ini digunakan untuk kantor gula yang membawahi 12 pabrik gula yang ada di sekitar Pekalongan, mulai dari Wonopringgo hingga Kendal. Namun, setelah Belanda hengkang dr Pekalongan dan Jepang menduduki kota Pekalongan, bangunan ini menjadi kantor pemerintahan. Setelah merdeka pu  kantor ini masih digunakan untuk kantor administrasi pemerintahan, baik digunakan sebagai Bappeda maupun kantor Keuangan. Namun pada tanggal 12 Juli 2006, karena desakan dari masyarakat dan pengusaha batik di pekalongam, akhirnya gedung ini diresmikan sebagai Museum Batik Pekalongan oleh Presiden Susilo Bambang Yudiono.

Museum Batik

Museum Batik

 

Next trip adalah Benteng Pekalongan. Benteng ini terletak di belakang rumah tahanan Pekalongan. Benteng ini didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1753 sebagai tempat penyimpanan senjata. Saat pemerintah Jepang pun tempat ini masih digunakan sebagai penyimpanana senjata. Pada tahun 1950 benteng ini dialihfungsikan menjadi penjara. Benteng ini pun digunakan sebagai salah satu simbol yang ada yang terdapat pada logo kota Pekalongan. Nah, ada yang menarik perhatian kami setelah berkunjung ke Benteng Pekalongan. Tepat di belakang benteng tersebut, ternyata terdapat sebuah pabrik yang sudah ada sejak tahun 1910. Yap, pabrik Limun atau pabrik Soda, sirup, dan sejenisnya. Dahulu, masyarakat Pekalongan menyebut minuman bersoda dengan sebutan ‘orson’. Limun inilah yang dimaksudkan sebagai orson. Pabrik yang sudah turun temurun sampai 4 generasi ini ternyata sampai sekarang masih berproduksi. Sering melewati jalan tersebut, namun baru kali ini tersadar bahwa ada pabrik yang menjadi salah satunlegenda kota Pekalongan, mengapa? Ya, karena Limun merupakan salah satu kekayaan kuliner kota Pekalongam. Limun ini terbuat dari pemanis alami, dan memiliki cita rasa yang tidak kalah dengan minuman bersoda lainnya. Lama kami di pabrik Limun tersebut sambil mewawancarai ibu penjaga di situ.

Benteng Pekalongan

Benteng Pekalongan

Pabrik Limun 'Siroop'

Pabrik Limun ‘Siroop’

 

Setelah itu, kunjungan kita beralih ke kali Lodge. Ternyata kata Lodge diciptakan oleh salah seorang anggota Fremansonry di Pekalongan. Dahulu kala, salah satu arsitek Belanda Johanes Rach pun menggambar kawasan Jetayu pekalongan dari sungi lodge tersebut. Kemudian kami berjalan lagi ke titik 0 kilometer Pekalongan. Banyak masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan titik 0 kilometer Pekalongan. Tugu yang terletak di ujung lapangan jetayu ini justru dianggap sebagai tugu penghalang bagi warga yang sefang berjalan-jalan ataupun berolahraga didana. Tugu 0 kilometer merupakan titik tengah kawasan Pekalongan tempo dulu yang terbentang dr Batang sampai Comal. Di tugu 0 kilometer ini terdapat tulisan ‘MYLPAAL’ yang berasal dari bahasa Belanda. Myl berarti satuan jarak, dan Paal berarti tanda jarak atau titik.

Mylpaal. Toitik 0 kilometer

Mylpaal. Titik 0 kilometer

Titik 0 kilometer Pekalongan

Titik 0 kilometer Pekalongan

 

Kami pun melanjutkan perjalanan ke kantor Pos Pekalongan, gedung Pertani yang dulunya sebagai bank pertama di Pekalongan, dan berakhir di Batik TV Pekalongan. Untuk kantor pos dan gedung pertani akan diceritakan di cerita selanjutnya.

Sangat berkesan acara jalan-jalan kemarin. Pekalongan heritage-Bukan Jalan-Jalan Biasa ini diharapkan terus adabuntuk menguak sejarah budaya dan bangunan yang ada di Pekalongan. Diharapkan ketika kita mengetahui sejarah berdirinya, kita sebagai masyarakat Pekalongan dapat menemukan potensi-potensi yang dapat dikembangkan dari kota Pekalongan, kita menjadi tau esensi atau tumuan awal dibangunnya bangunan tersebut agar terus melestarikan budaya yang ada.

Dan yang tidak kalah penting, peserta yang mengikuti Pekalongan Heritage kemarin akan memberikan sebuah karya yang tertuang dalam sebuah tulisan, gambar sketsa, ataupun fotografi. Pengalaman-pengalaman tersebut akan dituangkan dalam sebuah karya dan akan didokumentasikan dalam sebuah buku ‘Relawan indonesia Berinovasi untuk Pekalongan’. Wowwww……. sebuah aksi yang luar biasa. Semoga terus berkembang Pekalonganku tercinta.. 🙂

Pekalongan Heritage. Bukan jalan-jalan biasa.

Pekalongan Heritage. Bukan jalan-jalan biasa.

Tau Tapi Tidak Tau

Banyak orang yang tahu apa yang mereka tidak inginkan, tetapi mereka tidak tahu apa yang mereka inginkan.

~Coach Tjia Irawan~

Kerja, Mimpi, dan Cita-Cita

very Inspired!

Konflik

“Dan apapun yang terjadi dalam hidup kita, akan selalu ada konflik di dalamnya.

Konflik itulah yang pada akhirnya akan mendewasakan kita”

 

Kenapa “akhirnya”? Karena kita akan dapat melihat lebih jelas hal tersebut menjadi sebuah pembelajaran setelah konflik itu berakhir. Setelah kita menarik napas sejenak, diam, dan akhirnya merasakan bahwa apa yang telah terjadi merupakan rancangan-Nya yang dihadirkan sangat indah untuk kita.

 

 

Terus belajar dan belajar!

 

 

 

 

Loving and Sharing Each Others

-Shinta-

Datang dan Pergi

Banyak orang yang telah datang dan pergi dalam hidup kita. Memberikan warna, kesan, makna dan segala hal yang mengisi hari-hari kita. Sampai pada suatu ketika, satu per satu dari mereka pergi, meninggalkan semua hal yang membekas di hati kita. Teman, sahabat, keluarga, entah sebutan apa yang pantas diberikan untuk mereka.

Terima kasih atas kesempatan belajar yang diberikan, dan mengisi hari-hari ku dengan penuh suka cita dan kekeluargaan yang teramat mengesankan. Satu per satu dari kita pergi, hingga perpisahan bukan menjadi sebuah hal berat lagi bagi kita. Karena kita percaya, kita akan dipertemukan lagi di puncak kesuksesan, mengejar mimpi kita, menjemput takdir kita.

Sampai jumpa kembali [Fidels] Mbak April, Mas Wowok, Mas Tius, Mbak Amel, Cik Yulia, dan Widy.
Mari kita wujudkan takdir kita… 🙂

Takdir!

Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu.

 

Daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif, tapi sebenarnya menunjukkan padamu cara mewujudkan takdirmu. Daya ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu, sebab ada kebenaran mahabesar di planet ini: siapapun dirimu, apapun yang kau lakukan, kalau engkau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu di dunia ini.

 

Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.

 

 

The Alchemist – Paulo Coelho

Yang Muda Yang ‘Berkuasa’!

Tanggal 2 Juli lalu, saya bersama teman-teman satu team (Maxima Plus Training Center) dipercaya oleh Badan Narkotika Kabupaten Batang untuk memberikan outbound bagi peserta calon Kader Anti Narkoba Kabupaten Batang di kalangan instansi pemerintah dan swasta. Sebelumnya, kami memang memberikan outbound juga bagi calon kader anti narkoba untuk kalangan pelajar selama dua gelombang. Namun, yang akan saya ceritakan disini adalah pengalaman kami ketika memberikan outbound bagi kalangan instansi pemerintah dan swasta.

Kegiatannya memang tidak sesukses dua gelombang sebelumnya (kalangan pelajar-red), namun di situlah kami mendapatkan banyak pelajaran yang akan saya bagikan disini.

Tidak mudah memang untuk kami yang masih berusia muda memberikan outbound bagi peserta yang berusia lebih tua daripada kami. Perkataan “Wah, dikerjain anak kecil nih” dengan nada menyindir, sudah tidak asing lagi bagi kami. Disepelekan dan diremehkan bukan menjadi batu sandungan ato menyiutkan nyali kami, namun menjadi spirit bagi kami untuk dapat menampilkan yang terbaik dari kami.

Dari pengalaman kemarin, ada beberapa tips bagaimana cara untuk menghadapi orang-orang yang lebih tua/senior dari kita dalam memberikan training maupun outbound :

1.  Bangun rasa percaya diri yang kuat.

Terkadang, kita merasa minder menghadapi peserta yang lebih senior daripada kita. Kita menjadi kurang percaya diri dan merasa takut untuk melakukan kesalahan. Sebenarnya, pembawaan diri kita dapat ‘dibaca’ dan dirasakan oleh orang lain yang berhadapan dengan kita, gesture atau bahasa tubuh kita menggambarkan apa yang kita rasakan. Bila kita sudah merasatidak percaya diri, peserta akan merasakan itu dan akan menekan kita. Kita bisa menanamkan mind set bahwa kita lah yang paling mengerti materi/ permainan tersebut, bukan peserta. Sehingga peserta yang harus mengikuti aturan main kita, bukan sebaliknya.

 

2. Buatlah opening yang memukau

Opening dalam sebuah training akan menentukan jalannya training setelahnya. Bila opening tidak dapat menarik minat dan antusias peserta, maka akan menjadi sulit bagi trainer untuk membuat peserta terkesan dan fokus pada jalannya training selanjutnya. Opening yang mantap akan dapat menarik perhatian seluruh peserta dan dapat membangun ‘trust‘ peserta kepada trainer. Opening dalam sebuah training diharapkan dapat membuka bawah sadar peserta sehingga informasi/ materi yang diberikan dapat terserap dengan baik dan tujuan training dapat tercapai. Ice breaking ringan yang membangun suasana kebersamaan baik antara trainer dan peserta maupun antar peserta dapat dikemas menjadi sebuah opening yang memukau.

 

3. Bangun hubungan interpersonal.

Mengetahui satu per satu nama peserta akan membuat peserta tersebut merasa dihargai dan akan memberikan timbal balik kepada kita. Bila kita dihargai oleh peserta, maka akan menimbulkan kesan yang baik dan lebih mudah bagi kita untuk mengendalikan peserta. Selain hal itu, dengan mengetahui nama peserta akan membuat hubungan yang lebih intim antara trainer/ fasilitator dengan peserta. Adanya hubungan yang baik tersebut akan membuat training/ outbound berjalan dengan lancar.

 

4. Berikan peraturan yang tegas.

Tegakkan peraturan yang telah dibuat. Sebagai trainer, kita memiliki kuasa penuh atas peraturan yang kita berikan. Bila kita tidak tegas dengan peraturan yang telah dibuat oleh kita sendiri, maka akan membuat peserta meremehkan kita. Ketidaktegasan peraturan akan membuat peserta seenaknya sendiri dan akan banyak bernegosiasi terhadap peraturan. Waktu kita akan habis untuk menghadapi negosiasi-negosiasi yang dilakukan peserta, bukan fokus terhadap jalannya outbound/ training yang ada. Sebaliknya, bila kita konsisten dengan peraturan yang telah kita buat, maka peserta akan sangat menghormati peraturan tersebut dan dapat menerima kita dengan baik. Jalannya training akan lebih mudah dikondisikan.

 

4. Be Professional

Jadilah trainer yang professional. Junjung tinggi kejujuran. Sampaikan dengan jujur bila kita tidak mengetahui suatu hal yang ditanyakan peserta atau informasi-informasi lain terkait materi/ permainan yang diberikan. Akui kesalahan kita bila kita memang melakukan kesalahan. Permohonan maaf tidak akan merendahkan derajat kita dihadapan peserta asal tau bagaimana cara menyampaikannya. Berikan penghargaan kepada peserta. Penghargaan bisa disampaikan dengan cara mengucapkan terima kasih, memberikan tepuk tangan, dan lain sebagainya.

Nah, demikian tips singkat mengenai pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Semoga bermanfaat untuk pembaca yang terjun di dunia publik.

Manusia merupakan sumber ilmu, darinya kita dapat belajar banyak hal yang dapat memperkaya wawasan kita.

 

 

Loving and Sharing Each Others.. 🙂

Belajar sampai MATI!!!

Belajar??? Duhhh….. maless bangeetttt………

Iya, mindset kita mendengar kata belajar adalah kegiatan di dalam kelas, membosankan, interaksi satu arah antara guru dan murid, dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Bukan tanpa dasar saya menyatakan argumen seperti ini. Coba sekarang mintalah anak, adik, kakak, atau saudara kita untuk belajar, kebanyakan dari mereka akan menolak atau menundanya. Belajar dibutuhkan hanya pada saat kondisi mendesak yang memang mengharuskan kita belajar. Misalnya belajar saat ada ujian di sekolah. Belajar dalam kondisi seperti itu membuat kita menjadi terpaksa dan tidak benar-benar menyerap bahkan mengaplikasikan apa yang kita pelajari tersebut.

Nah, bagaimana kalau kita mengubah mindset kita? Belajar tidak harus selalu dengan buku kok, tidak harus di dalam kelas formal, tidak juga dengan interaksi satu arah. Iya, siapapun bisa menjadi sumber belajar kita, apapun dapat menjadi media kita untuk belajar. Belajar  merupakan suatu proses berkelanjutan sepanjang kehidupan kita. Kita dapat belajar dari hal-hal kecil di sekitar kita, yang bisa jadi kita lakukan sehari-hari. Seperti misalnya ketika kita berbincang-bincang atau berdiskusi dengan seseorang, kita dapat mengambil pelajaran dari orang yang sedang kita ajak berdiskusi. Apapun itu. Mulai dari belajar cara beliau berbicara atau mengutarakan ide pemikirannya, belajar cara pandang dan cara hidup beliau, belajar cara beliau mengatasi masalah, dan lain sebagainya. Selama kita hidup, proses belajar tidak akan pernah berhenti.

Mengapa kita harus selalu belajar di sepanjang kehidupan kita? Untuk menaikkan kapasitas diri kita, baik dihadapan Tuhan maupun sesama manusia. Merugilah orang tersebut bila ia tidak bisa mengambil apapun dari suatu proses kejadian. Kita akan menjadi orang yang ‘sama’ sepanjang waktu. Kita tidak akan pernah bisa mengembangkan diri kita bila kita tidak belajar, kita akan menganggap sebuah pengalaman menjadi biasa saja dan menjadi sebuah moment yang terlewatkan begitu saja bila kita tidak dapat mengambil banyak pelajaran dari pengalaman itu.

Continuous Learning. Hal tersebut menjadi kesimpulan saya sewaktu mengikuti kelas Akademi Berbagi Pekalongan dengan tema “Bisnis Online part 2” oleh Kang Alkaf. Kang Alkaf merupakan seorang wirausahawan batik di Pekalongan. Dalam kelasnya kemarin, beliau menuturkan bahwa menjadi wirausaha, uang bukan menjadi fokus utama tujuan kita. Tapi adalah belajar dari pengalaman berwirausaha itu yang tidak dapat didapatkan dengan cara apapun. Uang akan datang dengan sendirinya bila kita terus berusaha berada di jalan yang benar. Tuhan telah mengatur rejeki kita, tugas kita adalah terus berusaha dan selalu mengambil hikmah (pelajaran) dari setiap kejadian yang ada.

Kang Alkaf menuturkan bahwa pengalaman yang akan mengajarkan kita banyak hal. Tidak usah takut dan tak usah ragu, jika ingin berwirausaha, mulailah! Berhasil atau gagal itu urusan belakangan. Ketika kita sudah berani memulai usaha kita, maka disitulah sebenarnya keberhasilan kita dalam berwirausaha karena kita dapat menaklukan ketakutan dan keraguan kita. Selanjutnya, proses yang akan mengajarkan kita banyak hal. Proses yang baik akan berbuah hasil yang baik. Soft skill kita akan semakin terasah seiring dengan proses tersebut. Bagaimana mengelola emosi ketika berhadapan dengan komplain customer, bagaimana mengelola waktu kita antara berwirausaha dengan kegiatan lain, bagaimana menjaring link sebanyak-banyaknya, dan lain sebagainya. Proses tersebut yang tidak akan terbeli oleh apapun.

Continuous Learning, konsep tersebut yang Akademi Berbagi terapkan dan bagikan kepada orang lain. Belajar secara menyenangkan dengan mengadakan tema-tema yang berbeda tiap bulannya, tempat yang berbeda-beda pula, serta dengan suasana yang penuh kekeluargaan, asik, dan menyenangkan diharapkan menjadi media belajar untuk meningkatkan soft skill masyarakat luas. Semangat Belajar, Semangat Berbagi Bikin Happy… 🙂

Loving and Caring Each Others

Akademi Berbagi Pekalongan

BERBAGI BIKIN HAPPY

Jari Manis Indonesia

Aktivasi kekuatan Pikiran

Agustino Pratama

"Berbagi Ceritai"

Srijoko's Blog

belajar, berjuang, dan berkarya

stepenautis

All about the Life of Stepen

Sunrice Psikologi Unika

Be The Best in Everything!

katharinaedwina

"Liking everything of Challenging"

Recycle Bin

Ada cerita di setiap tarikan napas

Retta berkata...

bercerita dan mengomentari dunia

Caraka

Menyampaikan apa yang ingin disampaikan